Perkembangan bloger
Blog merupakan sebuah media untuk menuangkan hasil karya tulisan atau coretan apapun yang di hasilkan dari letupan dalam pikiran melalui permainan jari di atas keyboard sehingga menghasilkan karakter-karakter yang tersusun rapih dan indah, baik berupa opini, kritikan bahkan cerita sejenis novel-humor. tetapi kita juga tidak bisa menghindari baghwa blog kadang dijadikan ajang adu bacot, hinaan, personal insult atau pemuatan content-content illegal. Secara gamblang blog yang berkembang saat ini ada yang bernilai positif dan negatif.
Ada beberapa wacana yang menyatakan bahwa blog bukanlah sebuah link yang dapat di percaya keabsahannya jika di dalam contentnya memuat sebuah berita yang berbau politik, ekonom, etc atau semacamnya, karena selama ini blog di anggap hanya sebuah journal pribadi, tempat untuk bebas berekspresi dalam berbagai bentuk. Tetapi jika kita melihat lebih luas, sebenarnya blog juga di pakai oleh para jurnalis, politikus, ekonom, etc dalam memberitakan opini-opini meraka yang sudah tentu berdasarkan hasil pertimbangan yang matang.
Blog tidak sesempit yang di bicarakan sealam ini, didalam blog ada proses interaksi antar individu [blogger]. bisa dikatakan “Blog is Monodualistik”, sebagai tempat menuangkan olah pikir juga sebagai media interaksi. Interaksi ini terbentuk antar bloger yang sering berlalu lalang di berbagai tautan dan meninggalkan jejak sehingga ada lacak balik dari blogger lainnya [kerennya sih ..blogwalking..
], yang kalau di kehidupan nyata di sebut silahturahmi.
Ini berarti blog bukan sekedar media coretan, akan tetapi sudah berkembang ke hal yang lebih luas.
Sebagai individu yang suka nge-blog, saya melihat perkembangan blogger saat ini sudah cukup signifikan. tidak ada skala yang tetap dan spesifikasi dalam melihat hal tersebut. disini ini saya melihatnya dari sudut account yang bermunculan serta postingan yang terpajang dalam account mereka. Belum lagi di tambah dengan makin banyaknya komunitas-komunitas blog yang bermunculan, dimana keberadaan mereka tidak hanya sekedar menuangkan tulisan secara bersama-sama dalam sebuah account, akan tetapi ada hal lain dari sekedar menulis yang di implementasikan dalam kehidupan nyata, dalam bentuk yang berbeda, dan tetap mengatas namakan blog/blogger.
http://fritzinfo.wordpress.com/2008/05/22/perkembangan-blogger-di-indonesia/
Jenis-jenis blog
SEPERTI halnya ada banyak karakter manusia di bawah jagat atmosfer, demikian pula halnya dengan Blogger di ranah blogosfer. Dengan semangat “sebagai Blogger kita pun harus berani menertawakan diri sendiri”, saya mencoba mengidentifikasi dan mengklasifikasikan 12 jenis makhluk yang dinamakan Blogger. Setiap Blogger bisa saja memiliki salah satu karakter ini atau memiliki dua atau tiga kombinasi di antaranya.
-
Blogger Selebritas: Ini adalah jenis Blogger yang sangat terpesona dengan popularitas. Ia menginginkan semua orang mendukung, memuji dan memujanya. Jelas ia tak mau ada orang yang mau mengutak-atik singgasananya. Ia tak begitu peduli pada kualitas posting, tapi yang penting eksistensinya tetap ada dan dirasakan.
-
Blogger Hiperaktif: Inilah Blogger yang memiliki stamina yang prima. Ia sanggup mengirim puluhan posting setiap hari — tak peduli posting tematik atau sekadar rangkuman quick links — untuk sekian buah Blog yang dimilikinya. Sepertinya waktu 24 jam sehari dan tujuh hari seminggu belum cukup baginya.
-
Blogger Peneliti: Blogger yang satu ini memiliki dedikasi yang tinggi pada dunia penelitian dan pengetahuan. Ia rajin memposting pengetahuan, data dan fakta yang berguna di blognya. Setiap postingnya diperkuat dengan link-link yang tepat dan akurat.
-
Blogger Pendidik: Inilah Blogger yang lebih memposisikan diri sebagai pendidik atau guru. Ia sering memposting isu-isu dengan sudut pandang edukatif dan didaktif. Tidak begitu banyak frekuensi postingnya, tapi selalu menarik dan bermanfaat begitu ia memperbarui blognya.
-
Blogger Pesolek: Blogger yang satu ini gemar bersolek — dalam arti sering mempercantik tampilan desain Blognya. Ia sangat memperhatikan kualitas logotype, tipografi dan sensasi grafis Blognya. Blog itu indah, begitu mungkin prinsipnya, jadi kenapa harus dibuat gundah?
-
Blogger Gaul: Namanya Blogger gaul, Blogger yang satu ini memang gemar bergaul. Ia rajin menyambangi Blog-blog lain — apakah Blog yang sudah lama ataupun baru — memberikan komentar atau tanggapan. Kompensasinya, Blogger yang sudah dikunjunginya itu akan balik bersilaturahmi ke Blog dia. Semacam arisan juga, kan?
-
Blogger Narsis: Inilah Blogger yang sangat individual-sentris. Tak peduli apa yang sedang terjadi di dunia, yang jelas, ia hanya sibuk dengan posting tentang dirinya sendiri: berisi agendanya sehari-hari hingga sepekan mendatang. Sering memajang foto sendiri ataupun barang-barang pribadi lainnya. Jadi kalau ingin berkenalan dengannya, Anda tak perlu ketemu, cukup baca Blognya — dijamin akan mengenalnya dari A-Z!
-
Blogger Entrepreneur: Jiwa bisnis Blogger jenis ini luar biasa. Ia pintar memilih tema untuk sejumlah Blognya, dan menempatkan sejumlah banner iklan dari penyedia online advertising kelas dunia di Blognya. Jelas dia sangat akrab dengan istilah AdSense, Chitika, AdBrite, BlogAds, Amazon, dan lain sebagainya. Akumulasi klik dari pengunjung pada banner atau link advertorial ini jelas akan membuat dompetnya jadi tebal.
-
Blogger Profesional: Ini memang Blog sudah menjadi pekerjaannya sehari-hari. Full-time. Artinya, ia tidak hanya memiliki jiwa enterpreuner entrepreneur, tetapi juga mampu melakukannya dengan sangat profesional, memodalin dan mengelolanya dengan baik. Ia juga memiliki kemampuan manajerial dan penataan keuangan yang baik.
-
Blogger Amatir: Inilah Blogger yang setengah hati. Sekali waktu, ia rajin mengirim posting, kemudian menghilang satu-dua bulan, kemudian ia menggebrak lagi dengan posting-postingnya. Boleh jadi ia sudah lupa dengan username dan password admin Blognya, atau lupa URL Blognya sendiri.
-
Blogger Introvert: Inilah Blogger yang “tidak niat”. Ia menutup ruang komentar untuk setiap postingnya, tak mengungkapkan sama sekali jati-dirinya. Meskipun begitu, ia rajin posting. Boleh jadi waktu mau buka Internet dia lirik kanan-kiri dulu agar tidak ketahuan orang. Tapi masih syukur ia hanya menutup ruang komentar di Blognya, dan bukan menutup Blognya!
-
Blogger Filosof: Ini memang filosof abis. Hampir semua postingnya berisi pemikiran-pemikiran filosofis. Apapun isu atau topik yang sedang, bisa ia lihat dari kacamata filsafat. Meski harus mengernyitkan alis untuk membacanya, tapi sesungguhnya posting-postingnya sangat mendalam, menikam dan mencekam.
http://thegadget.wordpress.com/2006/05/13/12-jenis-blogger/
Add a comment Januari 10, 2009
Perkembangan Teknologi Televisi di Dunia
Televisi adalah sebuah alat penangkap siaran bergambar. Kata televisi berasal dari kata tele dan vision; yang mempunyai arti masing-masing jauh (tele) dan tampak (vision). Jadi televisi berarti tampak atau dapat melihat dari jarak jauh. Penemuan televisi disejajarkan dengan penemuan roda, karena penemuan ini mampu mengubah peradaban dunia. Di Indonesia sendiri ‘televisi’ secara tidak formal disebut dengan TV, tivi, teve atau tipi.
Televisi analog mengkodekan informasi gambar dengan memvariasikan voltase dan/atau frekuensi dari sinyal. Seluruh sistem sebelum Televisi digital dapat dimasukan ke analog.
Sistem yang dipergunakan dalam televisi analog adalah NTSC (National Television System(s)) Committee, badan industri pembuat standar yang menciptakannya. Sistem ini sebagian besar diteraapkan di Amerika Serikat (AS) dan beberapa bagian Asia Timur, seperti: China/Tiongkok, Jepang, Korea Utara, Korea Selatan, Taiwan, Mongolia.
Sementara, sistem PAL (Phase-Alternating Line, phase alternation by line atau untuk phase alternation line). Dalam bahasa Indonesia: garis alternasi fase), adalah sebuah encoding berwarna digunakan dalam sistem televisi broadcast, digunakan di seluruh dunia. PAL dikembangkan di Jerman oleh Walter Bruch, yang bekerja di Telefunken, dan pertama kali diperkenalkan pada 1967.
Televisi digital (bahasa Inggris: Digital Television, DTV) adalah jenis TV yang menggunakan modulasi digital dan sistem kompresi untuk menyebarluaskan video, audio, dan signal data ke pesawat televisi. Televisi resolusi tinggi atau high-definition television (HDTV), yaitu: standar televisi digital internasional yang disiarkan dalam format 16:9 (TV biasa 4:3) dan surround-sound 5.1 Dolby Digital. Ia memiliki resolusi yang jauh lebih tinggi dari standar lama. Penonton melihat gambar berkontur jelas, dengan warna-warna matang, dan depth-of-field yang lebih luas daripada biasanya. HDTV memiliki jumlah pixel hingga 5 kali standar analog PAL yang digunakan di Indonesia.
Televisi kabel adalah sistem penyiaran acara televisi lewat frekuensi radio melalui serat optik atau kabel coaxial dan bukan lewat udara seperti siaran televisi biasa yang harus ditangkap antena. Selain acara televisi, acara radio FM, internet, dan telephon juga dapat disampaikan lewat kabel.
Sistem ini banyak dijumpai di Amerika Utara, Eropa, Australia, Asia Timur, Amerika Selatan, dan Timur Tengah. Televisi kabel kurang berhasil di Afrika karena kepadatan penduduk yang rendah di berbagai daerah. Seperti halnya radio, frekuensi yang berbeda digunakan untuk menyebarkan banyak saluran lewat satu kabel. Sebuah kotak penerima digunakan untuk memilih satu saluran televisi. Sistem televisi kabel modern sekarang menggunakan teknologi digital untuk menyiarkan lebih banyak saluran televisi daripada sistem analog.
Televisi satelit adalah televisi yang dipancarkan dengan cara yang mirip seperti komunikasi satelit, serta bisa disamakan dengan televisi lokal dan televisi kabel. Di banyak tempat di bumi ini, layanan televisi satelit menambah sinyal lokal yang kuno, menghasilkan jangkauan saluran dan layanan yang lebih luas, termasuk untuk layanan berbayar.
Sinyal televisi satelit pertama disiarkan dari benua Eropa ke satelit Telstar di atas Amerika Utara pada tahun 1962. Satelit komunikasi geosynchronous pertama, Syncom 2 diluncurkan pada tahun 1963. Komunikasi satelit komersial pertama di dunia, disebut Intelsat_I (disebut juga Early Bird), diluncurkan ke orbit pada tanggal 6 April 1965. Satelit jaringan televisi nasional pertama, Orbita, dibuat di Uni Soviet pada tahun 1967. Satelit domestik Amerika Utara pertama yang memuat siaran televisi adalah geostasiun Anik 1 milik Kanada, yang diluncurkan pada tahun 1872.id:Satellite television.
http://www.cybermq.com/index.php?intermezzo/detail/1/10/intermezzo-10.html
Add a comment Januari 10, 2009
Konvergensi media teknologi
MELUASNYA pemakaian teknologi digital sebagai pengantar informasi telah membuka jalan bagi Indonesia memasuki era New Media. Sejumlah grup industri media besar nasional secara strategis telah menyiapkan langkah konvergensi isi melalui dunia digital. Internet menjadi teknologi konvergensi yang menyatukan berbagai platform media dalam satu bentuk baru media.
Ada dua karakter ” baru” dari media yang bertumbuh lewat internet itu. Pertama, kecenderungannya menyajikan peristiwa secara cepat dan dihadirkan lewat beragam platform sekaligus, dari video, suara dan teks. Kedua, melalui teknologi digital, pesan atau informasi menyebar secara horisontal, dari satu pengguna ke satu komunitas, atau sebaliknya. Misalnya, kemunculan YouTube, aplikasi jejaring sosial berbasis video, membuat berbagai peristiwa penting dikirim oleh individu dan dengan sekejap informasi bergambar itu bisa diakses secara global. Itu sebabnya, mengingat aspek strategis dari multimedia, YouTube dibeli oleh Google seharga US$ 1,6 miliar, dua tahun silam. Pendek kata, internet telah mengubah cara produksi dan distribusi informasi.
Dari aspek indutri media, ini termasuk lompatan penting setelah Guttenberg menemukan mesin cetak lima abad silam. Di Indonesia, ada 33 juta pelanggan internet pada 2008, yang angkanya diperkirakan terus menanjak tajam tiap tahun.Seiring bertumbuhnya infrastruktur teknologi informasi ini, sejumlah industri penyedia jasa telekomunikasi selular bahkan telah melebarkan urusannya ke bidang isi. Mereka kini tak hanya menyiapkan layanan jaringan, tetapi juga penyedia isi atau ”content provider”.
Artinya, kesiapan infrastruktur bagi jalan dan berkembangnya media informasi digital kini lebih matang dibandingkan lima tahun silam. Internet telah menghimpun jutaan situs informasi dalam satu jaringan global. Internet juga mempermudah setiap orang mencari dan mendapatkan informasi dalam beragam bentuk, dari gambar, teks dan juga suara.
Sejumlah media tradisional seperti cetak dan siaran berbasis elektronik pun terpaksa melakukan perubahan besar, dengan menghadirkan versi online di internet, dan mempertajam persaingan mereka di ranah media digital. Di Indonesia, kita menyaksikan munculnya news site sekaligus megaportal seperti Kompas.Com, yang menyatukan beragam platform media dari Grup Kompas Gramedia. Kehadiran Kompas.Com meramaikan bursa media digital yang sejak lama dikuasai oleh Detik.Com.
Dari dunia siaran elektronik, Grup MNC juga menghadirkan konvergensi media lewat Okezone.Com, yang menyatukan ragam media elektronik dan cetak di bawah Grup itu. Begitu juga dengan Visi Media Asia (VIVA) yang membawahi ANTV dan TVOne memutuskan membentuk lini konvergensi melalui VivaNews.Com. Sementara Jawa Pos Grup dikabarkan segera menyatukan aneka platform media cetak daerah dan televisi lokal mereka dalam satu media online. Konvergensi tampaknya telah menjadi strategi baru bagi industri media nasional.
Maka, menarik untuk melihat bagaimana para pelaku bisnis media membaca kecenderungan konvergensi ini. Bagaimana sebetulnya prospek New Media ini di Indonesia? Lalu, bagaimana internet membentuk jurnalisme baru dan mempengaruhi bentuk media di dalam kehidupan berbangsa?Untuk menjawab dua pertanyaan besar itu, seminar kali ini akan mengambil dua topik besar, 1) Peluang dan tantangan bisnis New Media, dan 2) Teknologi informasi sebagai alat demokratisasi.
1.”Menjembatani Jurang Digital”
Topik ini membicarakan persiapan pemerintah dalam mengantisipasi perkembangan teknologi informasi. Dalam hal ini memaparkan upaya membangun ”internet masukdesa” lewat pembangunan community access point (CAP), dan membuka hot pot nasional, dan program untuk mengatasi banyak warga masyarakat masih mengalami ”jurang digital”. Perlu dijelaskan Roadmap Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) nasional, dan infrastruktur apa yang akan dipersiapkan sehingga bisa menopang munculnya New Media dalam Pers Indonesia.
Pembicara : Mohammad Nuh, Menteri Komunikasi dan Informasi Republik Indonesia
2.”Konvergensi Media: Akhir Media Tradisional?”
Dalam topik ini pembicara akan mengungkapkan munculnya konvergensi berbagai platform media dalam industri media di tingkat global saat ini. Akan dibahas kondisi apa saja yang membuat media harus melakukan konvergensi, model-model konvergensi yang sedang berkembang saat, dan apa dampaknya bagi perkembangan jurnalisme masa depan. Lalu, dijelaskan juga seputar prospek jurnalisme multimedia di Indonesia.
Pembicara : Hary Tanoesoedibjo, CEO Media Nusantara Citra (MNC) Group
3. ”Dari Media Tradisional ke Multimedia: Pengalaman Kompas.Com”
Topik ini mengungkapkan bagaimana Kompas sebagai korporasi media terbesar memutuskan konvergensi di dalam grup itu, alasan dan pertimbangan yang melatarbelakangi kemunculan megaportal Kompas.Com. Dipaparkan kekuatan dari konvergensi media dan juga sejumlah kelemahan yang harus diantisipasi. Bagaimana Kompas menerapkan standar jurnalisme di tengah pencitraan dominan bahwa media online kurang terpercaya. Bagaimana Kompas.Com melakukan pengembangan dari media berbasis cetak menuju ke era digital multimedia.
Pembicara : Agung Adiprasetyo, CEO Kelompok Kompas Gramedia (KKG)
4.“Mencari Model Bisnis New Media”
Pembicara dalam topik ini akan mengulas konvergensi media dalam perspektif strategi bisnis. Dipaparkan bagaimana menyiasati perkembangan infrastruktur teknologi informasi sebagai “carrier” dan aspek media yang menguasai struktur “content”. Dijelaskan beragam model bisnis yang berkembang baik di tingkat global, dan aneka model bisnis multimedia yang mungkin muncul di tingkat nasional. Dijelaskan juga bagaimana konvergensi media mampu mendorong pasar lebih luas, serta berbagai tantangan bisnisnya ke depan.
Pembicara : Anindya N. Bakrie, CEO Visi Media Asia (VIVA) Group
Session II
Teknologi Informasi sebagai Alat Demokratisasi
1. New Media dan Infrastruktur Jaringan Sosial Baru
Topik ini akan mengulas kekuatan penyedia layanan seperti Yahoo yang kian bergerak ke arah multimedia. Dipaparkan bagaimana pertumbuhan komunitas yang difasilitasi oleh Yahoo menjadi satu kekuatan penting dalam demokratisasi media. Dijelaskan juga dalam era Web 2.0, posisi publik terhadap media, dan bagaimana strategi Yahoo dalam mendorong terbentuknya Netizen atau internet citizen. Dipaparkan juga kekuatan jaringan global media internet serta kecenderungan bentuk media di masa depan.
Pembicara : Turochas Fuad, Head of Mobile Yahoo Asia Tenggara
2. “New Media dan Blogger: Menakar Kekuatan Komunitas
Topik ini akan menggali kekuatan New Media yang bersifat interaktif dari sudut pandang para blogger. Bagaimana relasi New Media dan jejaring sosial yang dianyam para blogger bisa memunculkan suatu kekuatan baru. Dipaparkan juga bagaimana demokratisasi dalam “reporting” terjadi, dan apa peran jurnalis profesional dalam dunia jejaring sosial internet ini. Pergeseran yang terjadi dalam produksi isi informasi, dimana kepemilikan media tak lagi bisa mendikte isi bagi khalayak.
Pembicara : Enda Nasution, mantan Presiden Blogger Indonesia
3. New Media Sebagai Gerakan Sosial Baru?
Topik ini membahas bagaimana media berbasis teknologi digital telah mengubah kehidupan politik. Jaringan internet berpengaruh besar bagi akses publik atas dokumen pemerintah, bahkan pada taktik dan isi kampanye politik. Jaringan sosial internet bersifat horisontal dari New Media berpotensi besar menjadi alat mobilisasi politik bagi aneka kelompok kepentingan, baik bagi aktivis, komunitas bisnis, ormas, parpol dan pejabat pemerintah. Dipaparkan bagaimana revolusi media digital itu bertumbuh di tingkat global, dan perkembangannya di Indonesia. Potensi apa saja yang dimiliki New Media sehingga mampu memberikan dampak sosial dan politik bagi perubahan di Indonesia?
http://lanangsuprayogi.wordpress.com/2009/01/04/konvergensi-media-teknologi/
Add a comment Januari 10, 2009
Klasifikasi Handphone Tahun 2007-2008
A. Dari Segi teknologi Yang Digunakan.
- Low End : Handphone yang memiliki fitur sederhana.
Contoh :
v Nokia : 1200, 1208, 1650, 1209.
v Sony Ericsson : J121i, K200i, J120i, Z320i, J110i.
v Samsung : B110, C170, C140, B200.
v Motorola : W213, W205, W231, W181, W175.
v LG : KP100, KG 270.
v ZTE A36, eTouch 1133.
- Middle End : Untuk telepon seluler dengan desain dan fitur yang di sempurnakan.
Contoh :
v Nokia : 2600 Classic, 2680 Slide, 5000, 3110 Classic, 3120 Classic.
v Sony Ericsson : J132i, R300i, T303i, T250i, Z250i, K220i, R306i, K330i, T280i.
v Motorola : W218, W375, W270, W215, W360, W231, W208, W388.
v Samsung : C160, M150, C450, M300, M120.
v LG : KP100, KG270, KP105, KG195, KG288, KP110, KU250.
- High End : Telepon seluler yang memiliki teknologi maju.
Contoh :
v Nokia : 7310 Supernova, 5310, 6120 Classic, 5700, 5320 XpressMusic, 7210 supernova, E51, 7900 Prism, E65, 5320 XpressMusic, N76, N77, 5610.
v Sony Ericsson : S500i, W660i, K660i, W610i, W302, T650i, C702i, W910i, F305, K770i, Z770i.
v Motorola : ZN200, EM30, ROKR E8.
v Samsung : F250, D900i, E950i, D780, L700, J200, F330, U800Soul b, i450, L170, G600, S7330.
B. Dari Segi Segmentasi Pasarnya.
- Sosial Central : Komunitas yang suka berkomunikasi dengan sesame keluarga,teman dan kolega.
Contoh :
Ø Nokia : 1680 Classic, 1208, 1200, 5310, 5700, E51, 5000, 3110 Classic.
Ø Sony Ericsson : K530i, Z555i, W660i, Z250i.
Ø Motorola : W360, W230, W388, ZN200,W175.
Ø Samsung : J200, Z170, M150, C160.
- Cool Dinamic : Untuk komunitas yang menyukai dunia sport.
Contoh :
ü Siemens M35i
ü Motorola E398
ü Siemens E55
ü Beyond B530
- Perfomence : Untuk pembisnis dan kalangan prpfesional.
Contoh :
o BlackBerry Bold 9000
o BlackBerry 8820
o BlackBerry Pearl 8120
o HTC Shift
o HTC Touch
o MWg Atom V
o Nokia E71
o Nokia N96
http://retnacarmen.blogspot.com/2009/01/klasifikasi-handphone.html
Add a comment Januari 10, 2009
PERKEMBANGAN INTERNET DI INDONESIA
Zaman sekarang, internet merupakan kebutuhan bagi banyak orang karena dengan internet kita bisa mengakses dan menemukan segala informasi di seluruh dunia dengan cepat dan mudah. Kebutuhan internet yang sangat penting sehingga peningkatan jumlah pemakai internet setiap tahun yang selalu meningkat di seluruh dunia. Di Indonesia sendiri jumlah pemakai internet selalu meningkat dengan peningkatan yang cukup besar.
Sekarang banyak sekali layanan-layanan akses internet yang bisa kita pilih sesuai dengan kebutuhan kita, salah satunya layanan akses internet dari PT. Telkom seperti Telkomnet Instan dan Telkom Speedy. Telkomnet Instan merupakan layanan akses Dial-Up dengan kecepatan berkisar antara 40 Kbps – 56 Kbps sedangkan Telkom Speedy merupakan akses ADSL dengan kecepatan Up To 384 Kbps. Selain itu masih banyak sekali layanan-layanan akses internet yang bisa kita pilih.
Ada lagi layanan internet yang menggunakan Wireless Lan yang merupakan akses internet tanpa kabel atau menggunakan gelombang elektromagnetik seperti akses GPRS menggunakan handphone, PDA, laptop, dll. Selain itu sinyal Hotspot yang sering disebarkan ditempat-tempat seperti Mall, Cafe, Kampus, atau berbagai tempat lainnya bisa digunakan untuk mengakses internet, kita hanya perlu membawa peralatan mobile kita ditempat tersebut dan berinternetan disana.
Untuk dapat mengakses internet baik dengan kabel atau tanpa kabel selain diperlukan seperangkat komputer atau laptop diperlukan juga sebuah alat yang disebut Modem, modem berfungsi sebagai protokol yang mengubah sinyal analog menjadi sinyal digital atau sebaliknya.
Mungkin itu saja tulisan yang dapat saya sampaikan hari ini… Selalu kunjungi blog ini karena saya akan selalu meng-update tulisan saya setiap harinya…
http://alfandra.blogspot.com/2007/08/perkembangan-internet-di-indonesia.html
Add a comment November 5, 2008
|
|
Teknologi Serat Opt
Komunikasi dapatlah diartikan pentransferan informasi dari satu pihak ke pihak yang lain. Transfer informasi ini dilakukan dengan memodulasikan informasi pada gelombang elektromagnetik yang bertindak sebagai pembawa (carrier) sinyal informasi tersebut. Selanjutnya setelah tiba di tujuan, maka untuk memperoleh informasi yang asli dilakukan demodulasi.
Suatu komunikasi dikatakan berhasil atau sukses apabila dapat memuat informasi yang banyak dalam sekali pengiriman perdetiknya dan jarak yang dapat ditempuh oleh sinyal tersebut sehingga sinyal dapat diterima sesuai dengan terkirim.
Serat optik merupakan salah satu alternatif sebagai media transmisi komunikasi yang cukup handal, karena ia memiliki keunggulan dibanding media lainnya.
Sistem komunikasi serat optis memanfaatkan cahaya sebagai gelombang pembawa informsi yang akan dikirimkan. Pada bagian pengirim isyarat informasi diubah menjadi isyarat optis. Lalu diteruskan ke kanal informasi yang juga terbuat dari serat optis bertugas sebagai pemandu gelombang. Sesampainya di penerima berkas cahaya ditangkap oleh detektor cahaya, yang berfungsi mengubah besaran optis menjadi besaran elektris. Di sini cahaya mengalami pelebaran dan pelemahan, disebabkan karena ketakmurnian bahan serat, yang menyerap serta menyebarkan cahaya.
Cahaya yang telah mengalami pelebaran dan pelemahan itu dapat dipulihkan kembali dengan memakai piranti pengulang elektronis, yang ditempatkan pada jarak tertentu. Prinsip kerja piranti ini adalah mengubah cahaya yang datang ke bentuk elektris kemudian diperkuat dan diubah kembali ke bentuk asal (cahaya). Akan tetapi hal ini dianggap kurang praktis, karena dapat menyebabkan kesalahan tambahan, membatasi pesat transmisi dan lebar bidang serta relatif mahal.
Perkembangan teknologi yang begitu pesat telah memunculkan penguat serat terdadah erbium (Erbium Doped Fiber Amplifier, EDFA). Penguat ini dapat mengurangi ketergantungan terhadap piranti pengulang yang biasa digunakan. Fungsi EDFA dalam sistem komunikasi optis adalah :
- Penguat daya, berfungsi meningkatkan daya terpancar dari pengirim.
- Pengulang, dipasang di tempat-tempat tertentu.
- Penguat awal, berfungsi meningkatkan sensitivitas penerima.
Dengan menggunakan EDFA akan diperoleh pembangkitan sinyal dengan faktor yang lebih besar dan dapat membawa data dengan pesat bit yang lebih tinggi dibanding pengulang elektronik.
Dasar Sistem Komunikasi Optik
Sistem komunikasi serat optik pada umumnya terdiri dari pemancar, media transmisi dan penerima. Pada sisi pengirim, informsi yang akan dikirimkan terlebih dahulu diubah ke bentuk isyarat listrik oleh sebuah tranduser sebelum ditransmisikan. Oleh modulator informasi yang terdapat dalam isyarat listrik tersebut diubah lagi ke format yang sesuai. Sejumlah daya diberikan pengirim ke kanal informasi oleh pengkopel kanal (masukan) agar isyarat termodulasi dapat diteima pada sisi penerima. Pengkopel kanal (keluaran) memberi daya kanala informasi ke detektor. Isyarat termodulasi diubah oleh fotodetektor menjadi isyarat listrik. Dan setelah dipisahkan dari pembawanya, isyarat listrik diubah menjadi isyarat aslinya oleh suatu transduser.
Keunggulan Serat Optik
Ada beberapa keunggulan serat optik di banding media transmisi lainnya, yaitu :
- Lebar bidang yang luas, sehingga sanggup menampung informasi yang besar.
- Bentuk yang sangat kecil dan murah.
- Tidak terpengaruh oleh medan elektris dan medan magnetis.
- Isyarat dalam kabel terjamin keamanannya.
- Karena di dalam serat tidak terdapat tenaga listrik, maka tidak akan terjadi ledakan maupun percikan api. Di samping itu serat tahan terhadap gas beracun, bahan kimia dan air, sehingga cocok ditanam dalam tanah.
- Substan sangat rendah, sehingga memperkecil jumlah sambungan dan jumlah pengulang.
Di samping kelebihan yang telah disebutkan di atas, serat optik juga mempunyai beberapa kelemahan di antaranya, yaitu :
- Sulit membuat terminal pada kabel serat
- Penyambungan serat harus menggunakan teknik dan ketelitian yang tinggi
Add a comment November 5, 2008
Teknologi sebagai Produk Budaya
Dalam bukuVisi Iptek Memasuki Milenium III karangan Zuhal ada sebuah sub-bab yang menceritakan iptek yang merakyat dan high touch. Isinya dimulai dengan sejarah perkembangan manusia yang masih bergantung pada alam sampai mulai dapat memanfaatkan alam untuk menunjang kebutuhan hidup. Dalam kerangka iptek yang merakyat, buku itu menyebutkan bahwa manusia harus secepatnya mewujudkan mapannya masyarakat berbasis pengetahuan, manusia yang melek iptek dan siap menggunakan kemudahan yang tersedia untuk keperluan perekonomiannya.
Sisi lain, yang disorot adalah antisipasi akibat dan konsekuensi kehadiran high-tech. Oleh karena itu, Zuhal dalam bukunya menyatakan “Kita perlu melihat high-tech dari kacamata kemanusiaan dan memahami dampaknya terhadap kualitas hidup yang meliputi dan tidak terpisahkan dari evolusi budaya bangsa, kreativitas, imajinasi serta aspirasi masyarakat Indonesia. Bagi kita high tech bukan semata-semata artifak-kebendaan, objek material dan fisik saja, tetapi juga merupakan sesuatu yang menyatu dengan kehidupan masyarakat dan lingkungan.”
Kalau sains masih bisa diletakan dalam sebuah wilayah bebas-nilai(meski sampai saat ini masih banyak perdebatan mengenai sains yang bebas nilai), maka tak begitu halnya dengan teknologi. Bagaimana tidak, teknologi(techne=cara dan logos=pikiran) merupakan hasil dari proses berpikir manusia. Artinya teknologi merupakan hasil kebudayaan, yang dalam proses pembuatannya melibatkan ideologi, nilai-nilai dan pesan-pesan tertentu. Sms, misalnya, dalam budaya yang tingkat literernya cukup tinggi mampu menghemat biaya pulsa, namun ketika diterapkan dalam masyarakat tertentu malah dijadikan sarana baru untuk mengobrol. Hasilnya, sms malah menjadi sumber pemborosan baru. Salah satu kisah lain yang menarik adalah sebuah daerah yang penduduknya mayoritas bekerja sebagai TKW, dikisahkan bahwa rumah mereka bagus-bagus, didalamnya ada kulkas, televisi dll. Tapi kulkas tersebut tidak dimanfaatkan untuk menyimpan makanan yang cepat busuk melainkan sebagai tempat menyimpan baju.
Dalam hal ini teknologi hanya menjadi sebuah alat baru untuk menentukan klas seseorang. Dalam kacamata materialisme, aspek materi menjadi dasar dari sebuah bangunan sedangkan aspek non-materi menjadi bangunan yang ada diatasnya. Artinya dasar bangunan secara mutlak akan mempengaruhi bangunan diatasnya, namun tidak berlaku sebaliknya. Pada kasus penerapan teknologi tinggi(high tech), masyarakat di desa akan menyesuaikan diri dengan keberadaan teknologi tersebut. Hal ini akan berbeda keadaannya jika teknologi tersebut merupakan hasil dari proses berpikir masyarakat tersebut. Teknologi yang dihasilkan akan sesuai dengan kebutuhan dan masyarakat tidak akan menganut ideologi asing yang mungkin bertentangan dengan nilai-nilai yang ada di suatu daerah.
Beberapa ciri manusia modern menurut Inkeles dan Smith dalam buku Teori Pembangunan Dunia Ketiga adalah memiliki keterbukaan terhadap pengalaman dan ide baru, berorientasi ke masa sekarang dan masa depan, punya kesanggupan merencanakan, percaya bahwa manusia bisa mengendalikan alam dan bukan sebaliknya dll. Hal ini terlihat dari teknologi-teknologi tinggi karya manusia modern yang pada umumnya memiliki sistem kontrol untuk menegaskan kekuasaan manusia. Adanya dikotomi manusia modern dan manusia tradisional–sebagai lawan dari manusia modern—juga berdampak dari gaya hidup kedua kelompok tersebut. Teknologi sebagai buah budaya manusia modern secara langsung memiliki sifat sama dengan manusia modern.
Nilai-nilai yang berbeda inilah yang pada umumnya tidak disadari, sehingga ketika suatu teknologi diimport atau digunakan oleh manusia tradisional ada beberapa kemungkinan konflik. Pertama, teknologi tersebut ditolak, sebagaimana yang seringkali dialami oleh peneliti yang melakukan pengawasan langsung ke daerah-daerah. Selama masa pendampingan, teknologi tersebut dapat bekerja dengan baik. Namun ketika dilepas, mereka kembali pada cara-cara konvensional. Kemungkinan kedua, adalah masyarakat tradisional benar-benar bergantung pada teknologi tersebut dan menerima semua perubahan tersebut dengan kepercayaan mutlak. Akibatnya teknologi tersebut mencabut mereka dari akar budaya yang telah ada sebelumnya(cenderung terjadi di bidang consumer technologies).
Oleh karena itu, ada satu hal yang tidak bisa dilupakan adalah tujuan dari pembuatan teknologi tersebut, apakah teknologi dibuat dengan spesifikasi khusus sesuai dengan kultur budaya masyarakat tertentu atau ia bersifat nir-ruang. Sebagai produk budaya, tentu teknologi tak dapat bersifat nir-ruang. Solusi yang paling mungkin adalah proses adaptasi, sehingga nilai-nilai yang dibawa oleh teknologi tersebut dapat disaring dan dimanfaatkan semaksimal mungkin pada daerah baru(daerah yang mengimpor teknologi tersebut).
Penerapan teknologi terkait langsung dengan perkembangan industri dan juga militer. Artinya, kemajuan teknologi secara tidak langsung juga bisa dilihat dari kemajuan suatu negara. Hubungan ini bisa disederhanakan dengan membagi negara-negara di dunia menjadi dua kubu besar, yaitu negara maju dan negara terbelakang. Negara maju dengan pembagian kerja secara internasional(negara-negara industri dan negara-negara pertanian) berperan sebagai negara industri sedangkan negara terbelakang pada umumnya masuk dalam kelompok negara pertanian. Namun seiring dengan perkembangan zaman dan kemajuan teknologi, pembagian kerja ini mengarah pada berkurangnya pendapatan negara-negara pertanian sedangkan kebutuhan belanja barang-barang industri cenderung naik.
Akibatnya, negara pertanian menjadi negara terbelakang dan negara-negera industri melesat menjadi negara maju. Ada beberapa pendekatan yang bisa digunakan untuk menganalisis keadaan ini, salah satu diantaranya adalah pendekatan budaya. Sebagai pengembangan dari Etika Prostestan-nya Weber, McClelland mengajukan n-Ach(the need of Achievement). Konsep ini menyatakan bahwa keinginan, kebutuhan, atau dorongan untuk berprestasi tidak sekadar untuk meraih imbalan material yang besar. Hal ini terungkap dari studi historis pada pembangunan ekonomi di Spanyol pada abad ke-16. Hasilnya, pertumbuhan ekonomi selalu didahului oleh karya-karya sastra yang mempunyai nilai n-ach yang tinggi.
Kesimpulan
Dari beberapa teori dan contoh kasus diatas, terlihat bahwa teknologi yang dalam kacamata materialisme akan mempengaruhi masyarakat yang menggunakan teknologi tersebut dapat juga sebaliknya. Dalam masyarakat modern, perkembangan industri yang berbanding lurus dengan teknologi dipengaruhi oleh tingkat kebudayaan. Semakin tinggi nilai n-Ach, maka perkembangan ekonomi di negara tersebut juga akan maju.
Hal ini secara tidak langsung juga menjadi jawaban atas kemajuan yang dialami oleh negara-negara industri yang menjadi negara maju. Kehadiran alat-alat produksi yang serba cepat dan mekanistik menjadi katalis untuk mempercepat ritme hidup dan kemajuan. Akibatnya, ketika kultur masyarakat industri berubah dengan cepat menjadi masyarakat modern(dengan ciri-ciri yang telah disebutkan diatas). Masyarakat di negara-negara pertanian masih terbiasa dengan pola hidup yang mengandalkan alam, tidak peka terhadap perubahan dll.
Ironisnya, ketika mereka sadar akan ketertinggalan ini, masyarakat negara-negara terbelakang langsung mengadopsi teknologi tinggi yang menyebabkan tingkat ketergantungan mereka terhadap negara maju semakin tinggi. Ditambah intervensi negara-negara maju yang kini memegang posisi penting dalam badan-badan dunia seperti PBB, WTO. Selanjutnya jika menggunakan cara pandang linier, negara terbelakang akan mengikuti sejarah negara maju(berubah menjadi negara industri) dan ketika negara terbelakang telah menjadi negara industri, negara yang disebut maju adalah negara yang menguasai teknologi tinggi. Hal ini berlangsung terus menerus seperti paradok Zeno(kisah dimana Zeno tidak berhasil mengejar kura-kura yang sudah lari terlebih dahulu karena setiap kali Zeno melangkah, kura-kura tersebut sudah melangkah maju lebih dahulu). Untuk mengatasi ketertinggalan tersebut, maka negara-negara terbelakang harus mampu menciptakan teknologi yang berasal dari akar rumput(grass-root), sehingga teknologi mampu memutus matarantai ketergantungan terhadap teknologi yang berasal dari negara maju, sekaligus menghindari terjadinya konflik internal.
Add a comment November 5, 2008
Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!
1 komentar November 5, 2008